Sumber (Penerjemah) : Sumitro Tegela
Editor : Lily Arianingsih
Editor : Lily Arianingsih
Konspirasi
VOC merebut dan meruntuhkan peran Raja Bolaang Mongondow
Ketika Gubernur Padt- Brugge memutuskan untuk menguasai seluruh daratan Sulawesi Utara di bawah kontrol Belanda tahun 1677, pembentukan
kekuasaan Belanda yang tidak terbantahkan di Sulawesi Utara diantar dalam waktu
yang relatif damai. Setidaknya, dimana konflik lokal yang
dilakukan lebih sedikit risiko eskalasi. Namun demikian, ada banyak di daerah
yang dengan senang hati akan melihat intervensi politik lama yang kompetitif. Gorontalo,
setelah rela bertukar dengan Ternate untuk kedaulatan pemerintahan pada 1678, jatuhnya Belanda ketika mereka berusaha
untuk membatasi kekuatan militernya di Teluk Tomini. Sebagai tahanan di atas
kapal Belanda tahun
1681, Raja dari Manado, Loloda Mokoagow,
sudah semakin bertentangan dengan Belanda sejak 1656, ketika mereka membangun
benteng dekat ibukota dan mulai merebut kekuasaannya di Minahasa. Setelah VOC
pergi sejauh untuk menyimpulkan perjanjian dengan Kepala Walak Minahasa.dan
menyingkirkan peran raja Loloda Mokoagow.
(DAVID HENLEY KONINKLIJK INSTITUTE
VOOR TAAL-, LAND- EN VOLKENKUNDE).
Ada sumber yang menyatakan pada
pihak lain, desakan dari kompeni Belanda menyebabkan para pemimpin Walak rakyat
Minahasa melakukan pemutusan hubungan dibawah sumpah dengan Raja Loloda
Mokoagow. Hal ini terjadi pada tahun 1668. Gubernur Ternate yang berkunjung ke
Manado tahun itu juga mengundang Loloda Mokoagow dari Amurang ke Manado guna
berunding dengan para Ukung. Niat baik Loloda Mokoagow saat memenuhi undangan
tersebut ternyata ditolak pemimpin Kompeni di Manado bersama para pemimpin
rakyat Minahasa dengan alasan bahwa mereka telah melakukan pemutusan hubungan
dengan Raja Loloda Mokoagow. Dengan pemutusan hubungan tersebut, Loloda
Mokoagow melakukan beberapa penyerangan ke pedalaman Minahasa dengan tujuan
memberi pengajaran kepada mereka sambil tetap menuntut dikembalikannya Manado
dalam wilayah kekuasaannya. Penyerangan ke Minahasa selain dilakukan dari jalur
Amurang, juga dari jalur pantai Selatan Kotabunan. Tidak jauh dari Kotabunan
terdapat satu tempat sumber air yang sangat jernih. Ditempat itu tentara
Bolaang biasa beristirahat sambil mandi dan membersihkan segala perlengkapan.
Tempat itu mereka beri nama Bataan (tempat untuk mencuci perlengkapan),
kemudiannya berubah
sebutan menjadi Basaan. VOC mulai memainkan peranya ketika Raja Loloda
meninggal
pada tahun 1694. Sebenarnya raja
Loloda Mokoagow telah mempersiapkan seorang anaknya untuk menggantikannya.
Ternyata niat itu dilangkahi oleh Kompeni Belanda, sebab mereka mendesak untuk
menetapkan Manoppo sebagai raja Bolaang menggantikannya. Manoppo adalah anak Loloda Mokoagow dengan seorang selir bernama Malo
dari Minahasa. Manoppo tidak
dibesarkan diistana Raja di Amurang tetapi ia tinggal di Manado dibawah para
Kompeni. Hal ini ternyata mengandung maksud tertentu yaitu mempersiapkan
Manoppo menggantikan ayahnya sebagai Raja Bolaang. Pimpinan Kompeni di Manado Pieter
Alsteyn dan Stepanus Thierry menekan
Raja Manoppo untuk membuat perjanjian. perjanjian tersebut adalah ;
Corpus
Dipolmaticum Neerlando-Indicum
Verzameling van Politieke Contracten en Verdere Verdragen Door de Nederlanders in Het Oosten Gesloten, van Privilegebrievan Aan Hen Verleend, Enz, 1726-1752
Verzameling van Politieke Contracten en Verdere Verdragen Door de Nederlanders in Het Oosten Gesloten, van Privilegebrievan Aan Hen Verleend, Enz, 1726-1752
Koleksi Kontrak Politik dan Perjanjian lain oleh Belanda di Tertutup Timur dari Privilegebrievan Memang Untuk Mereka, dll, 1726-1752
1.DCCLXXXI.
MOLUKKEN" BOLAANG. (MDCCLXXVI. Maluku "Bolaang.)
- Raja
Bolaang tidak akan menuntut upeti lagi dari walak-walak tertentu di Minahasa
(dalam hal ini Pasan, Ratahan, Ponosakan dan Tonsawang)
-
Sungai Poigar ditentukan sebagai tanda batas antara Bolaang dan Minahasa (batas
membentang dari Poigar - Pontak sampai Buyat)
-
Para Ukung di Manado (termasuk Minahasa) tidak dibenarkan mengadakan tindakan
apapun yang dapat merugikan kepentingan Bolaang
Raja Bolaang tidak akan
menuntut upeti lagi dari walak-walak tertentu di Minahasa (dalam hal ini Pasan,
Ratahan, Ponosakan dan Tonsawang)- Sungai Poigar ditentukan sebagai tanda batas
antara Bolaang dan Minahasa (batas itu membentang dari Poigar - Pontak sampai
Buyat)-Para Ukung di Manado (termasuk Minahasa) tidak dibenarkan mengadakan
tindakan apapun yang dapat merugikan kepentingan Bolaang.
Kaart Minahasa

Akibat
dari penanda tanganan perjanjian ini menyebabkan raja Manoppo harus
meninggalkan Amurang dan memilih desa Bolaang sebagai pusat kerajaan.Dengan
dilakukanya Perjanjian tersebut lepaslah sebagian wilayah kerajaan Bolaang yang
garis pantainya membentang dari kaidipang sampai Kema (dekat
kota
Bitung, Sulut).
Manoppo yang
telah lama tinggal di Manado telah dibabtis menjadi penganut agama Kristen
Protestan. Dalam beberapa buku dan beberapa catatan lepas sering ditulis dan
dijelaskan bahwa Manoppo dibabtis menurut secara Katolik. Hal itu tidak benar sebab ditahun
pembabtisannya pengaruh Portugal maupun Spanyol telah lenyap sama sekali dari
Sulawesi Utara. Spanyol yang sempat mempengaruhi Sulawesi Utara dengan tinggal
dan membangun pasanggrahan di Amurang telah meninggalkan Sulawesi Utara pada
tahun 1666 akibat tekanan
tentara kompeni dari VOC.
Disaat pembabtisannya Manoppo diberi tambahan nama Yakobus sehingga namanya menjadi Yakobus Manoppo. Sejak saat itu raja Bolaang telah menganut agama Kristen Protesten.
Disaat pembabtisannya Manoppo diberi tambahan nama Yakobus sehingga namanya menjadi Yakobus Manoppo. Sejak saat itu raja Bolaang telah menganut agama Kristen Protesten.
MASUKNYA ORANG MINAHASA
KE BOLAANG MONGONDOW
Tahun 1708 di Manado terjadi
bentrok antara orang-orang dari negeri Tolour dan dari Totemboan khususnya
Sonder. Pimpinan orang Kakas di Manado menjadi korban meninggal. Akibatnya
pemimpin-pemimpin Tolour memberi pelajaran kepada orang-orang Sonder sehingga
banyak jatuh korban meninggal dunia. Karena rasa takut atas peristiwa tersebut
maka banyak orang Sonder meninggalkan kampung halamannya dan menuju ke daerah
Selatan Minahasa.
Raja Yakobus Manoppo yang melihat kekacauan
di Minahasa sebagai suatu kesempatan untuk melancarkan kembali tutntutan yang
pernah disampaikan kepada Kompeni di Manado tahun 1704 untuk mengembalikan
Minahasa kedalam wilayah kekuasaanya. Tuntutan itu disampaikan atas dasar hak
waris. Dalam menyampaikan tuntutan itu saudara Yakobus Manoppo yaitu Salomon
Makalalag memegang peranan penting. Ternyata cukup banyak pengungsi
juga memasuki wilayah kerajaan Bolaang.
Para pengungsi dari Minahasa disambut dengan tangan terbuka oleh Salomon
Makalalag. Merekapun diberi pemukiman
baru baru bahkan dilengkapi dengan makanan yang cukup. Karena perbuatan itu
tersiarlah isu bahwa para pengungsi hendak menjadikan
Salomon
Makalalag sebagai raja Minahasa. Pada tanggal 12 April 1708 Kompeni di
Manado mengirimkan peringatan kepada Salomon Makalalag sekaligus meminta
supaya para pengungsi Minahasa dikembalikan ke tempat asalnya. Namun
sekalipun dengan ancaman, pemulangan pengungsi itu tidak berhasil sebab
pengungsi itu sendiri tidak bersedia lagi kembali kekampung halamannya semula.
Mengalirnya penduduk Minahasa ke wilayah kekuasaan raja Bolaang
memang beralasan. Terutama sejak tahun 1730 ketika raja Yakobus Manoppo meninggal
dan digantikan Salomom Makalalag
yang bersimpati kepada para pengungsi, perpindahan pendudukan Minahasa ke
Bolaang makin besar jumlahnya. Tahun 1733 Salomon
Makalalag melakukan kunjungan ke Manado. Kunjungan itu dijadikan
kesempatan untuk menahannya dan oleh kompeni di Manado disampaikan alasan
pembangkangan terhadap Kompeni.
Oleh kompeni, tahun itu juga mengangkat raja Salomon
Makalalag sebagai raja Bolaang. Tetapi pelarian
penduduk tetap saja terjadi. Atas dasar itu kompeni mencari alasan untuk
menyingkirkan Salomon Makalalag. Kompeni mengeluarkan
laporan palsu bahwa raja Salomon Makalalag merusak
tanda-tanda perbatasan yang menjadi persetujuan terdahulu. Raja Salomon Manoppo
di tangkap, dibawah ke Batavia (Jakarta)
dan kemudian dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika bagian Selatan.
Atas perbuatan itu kompeni menghadapi perlawanan rakyat Bolaang
Mongondow di bawah pimpinan Sahada Yambat seorang rakyat biasa.
Hanya satu tuntutan mereka yaitu kembalikan raja kami yang tercinta Raja Salomon
Makalalag ke kerajaan
Bolaang. Karena
begitu hebatnya perlawanan dan tuntutan rakyat maka pihak kompeni Belanda tidak
dapat berbuat lain kecuali bersedia dan berjanji untuk segera mengembalikan
raja Salomon Manoppo. Pada akhir tahun 1754 Salomon Manoppo tiba kembali di
Batavia.
Permulaan tahun 1755 melalui Ternate,
raja Salomon
Manoppo berada kembali ditengah rakyatnya dengan segala kebesaran dan
sanjungan menurut adat.
Dari peristiwa diatas perlu dicatat disini bahwa dalam laporan-laporan resmi baru pada peristiwa ini dicatat adanya istilah raja Bolaang Mongondow, yaitu berkat pemberontakan rakyat Mongondow dibawah pimpinan Sahada Yambat.
Dari peristiwa diatas perlu dicatat disini bahwa dalam laporan-laporan resmi baru pada peristiwa ini dicatat adanya istilah raja Bolaang Mongondow, yaitu berkat pemberontakan rakyat Mongondow dibawah pimpinan Sahada Yambat.
Demikianlah raja Salomon Manoppo dicatat sebagai raja
pertama dengan istilah raja Bolaang Mongondow.
Sekembalinya
dari Tanjung Harapan, dan sebelum kembali di Bolaang mongondow, raja Salomon Manoppo dipaksa untuk membuat
suatu perjanjian dengan Kompeni yang isinya yaitu orang-orang Minahasa tidak
diperbolehkan memasuki Bolaang Mongondow. Tetapi ternyata perjanjian yang
dibuat tanggal 15 Maret 1756 ini tidak ditaati. Hal itu terjadi pada saat
pemberontakan orang-orang Bantik
akibat ditangkapnya pemimpin mereka yang bernama Mandagi pada tahun 1764. Pengungsian kembali terjadi pada tahun
tersebut. Sejak saat itu Bolaang Mongondow ketambahan dua Kampung baru yaitu
Mariri dan Poopo. Sedangkan dalam pelarian orang Minahasa sebelumnya telah
memunculkan pemukiman baru dengan nama Poopo Nonapan yang terletak ditepi sungai
Nonapan. Karena seringnya terjadi banjir maka pemukiman di Poopo Nonapan
berpindah ke arah Timur yang saat ini adalah desa Nanasi. Pada tempat lain juga
muncul desa Bantik yang berdekatan dengan Mariri.
Sejarah masa lalu Kerajaan Bolaang Mongondow yang
gemilang dan politik Adu domba Belanda
agar bisa diambil tenaganya untuk menguras seluruh bahan mentah dan hasil bumi
Bolaang Mongondow. Belanda berusaha agar Kerajaan Bolaang di abad 19 dan 20
hilang dari sejarah sulawesi utara. Perut bumi kerajaan Bolaang di keruk dengan
mendatangkan investor dari belanda dan mengklaim milik otoritas Belanda
East India Company sehingga belanda telah membuktikan kekuatannya dengan
menetapkan diri sebagai master tak
terbantahkan dari Manado. Berapa banyak emas yang
dikeruk Nederlands-Indië mijnbouwbedrijf Koetaboenan. (perusahaana
pertambangan emas kotabunan) Emas yang diangkut ke negeri Belanda untuk membuat
koin emas Wilhemina sehingga muncul kota Amsterdam dan Rotherdam. Dan
kita juga maklum bahwa tanah-tanah di negeri Totabuan itu banyak mengandung
emas. Sampai terakhir pada masa kemerdekaan hari ini emas dari Totabuan pun
diangkut oleh Perusahaan luar negeri dengan alasan Perusahaan Merek Nasional
berbaju kolonial. Ternyata bangsa kita masih tetap bisa dibodohi bangsa
asing.
"Belajar dari sejarah
perjalanan bangsa-bangsa lain, Maka bisa dipastikan tidak ada bangsa yang besar yang
tidak berpijak dari sejarah bangsanya sendiri".
Memang, tidak
dapat dipungkiri umat manusia terdiri dari beragam Suku, Ras, Bahasa, dan
juga Agama, baik
itu secara esensial maupun aksidental. Tetapi bukan ini yang menjadi persoalan
dalam multikulturalisme. Fokus utama Multikulturalisme adalah bagaimana kita
memandang keberagaman yang faktual itu? Apakah kita menerimanya secara positif
atau secara negatif? Apakah kita memandangnya sebagai mosaik keindahan untuk
saling berbagi atau sebagai hasrat untuk saling menguasai?
Di RRT sekalipun, bangsa Tingkok tersebut mampu
menempatkan sejarah bangsanya secara positif, dan semua pemikiran sejak
pemikiran Konfisius, pemikiran Dr Sun Yat Seng, Pemikiran Mao Tse Tung, Deng
Xiaoping. Semua ditempatkan dalam perspektif positif sebagai alur benang
sejarah yang menjadi fundamental kemajuan suatu daerah khususnya Bolaang Mongondow
Raya. Semoga!
Sumber ;
Sumber ;
- -Het journaal van Padtbrugge’s reis naar Noord- Celebes en de Noordereilanden (16 Aug.–23 Dec. 1677).
- - Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Indië 14: 105–340.
- - Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 78: 215–247. ———. 1939
- - in verband met den Goron- taleeschen staatsbouw. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volken- kunde 79: 23–72.
- -Heeres, J. E., and F. W. Stapel, eds. 1907–1955. Corpus Diplomaticum Neer- lando-Indicum, 6 vols. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
- -De Katholieke missie in noord celebes en de sangi eilanden 1563-1605
- - Valentijn F.(1666-1727) Oud En Nieuw Oost-Indien
- -Raja dan Perjanjian.David Henley and Ian Caldwell
- -Sejarah GMIBM.gmibm.weebly.com
- -Sejarah Kesultanan Ternate. Wikipedia.
- -Het sultanaat Ternate en de Republiek, 1599-1621. Dr Chris de Jong.



Post A Comment:
0 comments: