FajarTotabuan.com - Harga cengkih yang kian menurun saat panen raya masih menjadi fenomena klasik, terkhusus di daerah Sulawesi Utara (Sulut). Untuk mengatasi permasalahan harga salah satu komoditi tersebut, membuat Dewan Provinsi (Deprov) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut harus duduk bersama dengan Himpunan Petani Cengkih (HPC) untuk mencari solusi yang terbaik.
Jajak pendapat yang digelar oleh Komisi II itu, ingin menaikan harga cengkih yang saat ini turun berkisar Rp84ribu. Usulan pertama pun siap dilakukan Wakil Ketua DPRD Sulut, Wenny Lumentut.
Demi membantu petani agar dapat menjual cengkeh hingga kisaran 95ribu, Wenny akan mencoba menggunakan jaringan yang dia miliki.
"Pekan depan saya akan menghubungi pimpinan pabrikan rokok di jakarta untuk memberikan harga khusus bagi petani cengkih sulut dengan syarat jumlah cengkih yang ada di sulut sedikitnya 500 ton," jelas Lumentut, selasa (13/09).
Hal tersebut, dilakukan Wenny demi mencegah penyebab harga turun yakni para tengkulak yang sering memainkan harga saat panen raya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI) Sulut Paulus Sembel juga mengatakan faktor ekonomi petani yang rendah membuat rasa takut selalu di mainkan para tengkulak.
"Para petani cengkih terpaksa harus menjual cengkihnya meskipun harganya anjlok, karena petani harus segera membayar upah pekerja dan siklus memiriskan ini terus berjalan sejak beberapa tahun silam yang anehnya lagi tak kunjung ada perhatian pemerintah," tungkas Sembel.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Sulut, Steven Vreeke Runtu (SVR) mengusulkan adanya pembelian langsung cengkih dari pabrik kepada petani lewat intervensi dari Pemerintah Daerah (Pemda). Hal itu dimaksudkan, mencegah para tungkulak untuk bisa beraksi
"Para tengkulak ini karena memiliki modal besar seenaknya memanfaatkan kelemahan ekonomi petani melakukan pembelian harga dibawah yang kemudian dijual kepabrikan dengan harga tinggi akhirnya raup keuntungan berlipat ganda disaat petani kesusahan," jelas. (Arm)


Post A Comment:
0 comments: