Orang-orang di Ternate pasti tahu, siapa itu Solina. Solina adalah judul sebuah lagu yang paling disukai dan paling populer di kalangan muda-mudi Maluku Utara (Malut) di kala itu. Iya, sudah pasti, di kala itu Pak Joko Widodo belum jadi Presiden Republik Indonesia. Kalau tidak salah, Anda masih suka naik gunung, seperti yang saya lakukan sekarang.
Dan saya yakin, Pak Jokowi juga tidak kenal dengan Solina. Kalau dengar lagunya, pasti pernah. Bukan begitu pak? Jangan dijawab dulu. Nanti setelah baca "Surat Cinta Damai" dari saya ini sampai selesai waktu Jum'at. Boleh pak? Ok. Diam berarti sepakat.
Begini Pak Jokowi, sebelum saya ceritakan kisah Solina tapi, ya?
"Iya ..." dalam hati Anda begitu pasti kan? Karena saya yakin, Anda masih punya hati. Hati sebagai pemimpin umat. Dan saya harap, bukan sebagai penguasa yang semakin semena-mena pada rakyat yang telah mengangkat dan menaruh bapak di kursi itu. Sangat empuk kan? Walau kadang ketika sangat bosan, Anda langsung melakukan blusukan (kalau bahasa saya, namanya pencitraan).
Ok. Saya lanjut pak ya? Jadi, pada zaman dahulu kala (baca: sebelum kerusuhan di Maluku; perang agama yang meng-atas-nama-kan Tuhan), dan pada akhirnya merambat sampai ke Maluku Utara. Kami dipaksa berperang sesama keluarga pak. Saya dipaksa membunuh kakek saya sendiri yang tak berdaya di dalam sumur pak. Saya dipaksa menombakinya tepat di dadanya yang masih tersimpan cinta. Ya, semacam cinta kepada cucunya, dan cinta seribu kedamaian. Ah, jadi curhat ya lama-lama. Tapi, ini benar pak. Makanya, kami sangat tidak mau kejadian itu terulang lagi di kepemimpinan bapak. Karena perangi saudara, itu percuma*.
Ok, saya lanjut ke Solina saja. Jadi, pada zaman itu, ketika "Pesta Ronggeng", muda-mudi sangat menggemari dan langsung berebutan berjoget, ketika lagu "SOLINA" diputar oleh keamanan kampung. Iya keamanan kampung. Unik kan? Nanti tanya balik, setelah baca ini surat damai.
" Solina a a a a a a a a a ...
Lina Lina Lina O ...
Solina pake baju meeeraah
Di mana rumahmu?"
Begitu kira-kira pak bunyi reff dalam lagu Solina.
Berbeda dengan Solina dalam judul lagu di atas, Solina yang saya maksudkan ini adalah salah satu karya terencana dari Mahamudiantarakyater Tindasampa Inginendang (saya putus kontak, jika buku ini sudah terbit), yang kemudian mengganti nama pena-nya menjadi MAHAMUDA setelah menerbitkan beberapa buku, yakni "Jalan Takdir", dan "Nol Ketemu Satu". Mahamuda, saya artikan sebagai anak yang paling muda dalam keluarga Mahmud Dahlan (nama ayahnya). "Nyanyi sunyi si Bungsu," kata dia, saat ingin bernyanyi.
Karena pemikirannya yang begitu kekirian, dia kadang harus berbeda pandangan dengan kakaknya,D.A. Dahlan, penulis novel " Sang Penatap Langit". Walau demikian, mereka adalah kakak beradik yang sangat merawat budaya "Baku Sayang". " Baku Bawa Bae-bae".
Kakaknya--yang saat menulis " Sang Penatap Langit" menggunakan nama pena Chairul Al Attar, telah mendirikan rumah buku Bale Bambu Dewantara di Desa Wayaua, Kecamatan Bacan Timur Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Ketika berkunjung, saya sempat melihat beberapa buku Tan Malaka, di mana ada nama R Graal Taliawo, lengkap dengan tanggal pembeliannya. Ada beberapa nama juga yang turut menyumbang buku.
Niat Mahamuda, dia akan mengoleksi 1.000 buku, untuk kemudian mendirikan sebuah Rumah Baca (RB) juga. Sama dengan kakaknya. Walau berbeda pemahaman, niat mereka satu, yaitu membuka jendela dunia selebar-lebarnya dengan membaca. Setelah membaca dan menulis, mereka mengajak orang membaca dan menulis juga. Walau hanya tulisan lucu seperti ini. Atau, seperti perintah bapak yang terlihat lucu di koran yang saya baca pagi ini, Juma'at 13 Mei 2016.
Karena saya baru bisa membuat Buku Antologi, Mahamuda selalu mengajak saya dan beberapa orang putra asal Desa Wayaua lainnya. Dia mengajak kita untuk membaca dan menulis. Setiap kali dia akan bertanya, " Fadlun Sangaji, Muzakir Rahalus, Fandy Sibela, Rifaldi Rahalus, kapan kalian menulis?"
"Siap. Tunggu saja nanti," komentar saya kala itu, di sebuah tulisan yang dia tandai kami di Facebook. Sedangkan yang lainnya, pasti jawabannya sama.
"Nanti kapan?" tanyanya lagi.
"Tunggu kalau sudah punya banyak buku. Saya mau tulis apa coba kalau tidak membaca?" kata saya, kemudian menutup dengan tanya.
"Hahahahahaha," balasnya lagi dengan tertawa.
"Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu? Benarkan?" tanya saya menegaskan apa yang saya kemukakan di atas.
Nah, buku sangat penting kan, Pak Jokowi? Kenapa harus dibakar? Tolong tarik perintahnya pak, jika menginginkan bangsa ini cerdas. Jika punya niat mencerdaskan bangsa. Sekian Pak Jokowi. Sebenarnya, masih panjang, tapi karena saya khawatir Pak Jokowi menyangka saya PKI (Penyair Kecil Indonesia), dan mengutus orang-orang tidak berwajib untuk menangkap saya, maka cukup sampai di sini "Surat Cinta Damai"-nya. Saya tunggu balasan secepatnya ya pak? Jika tidak, kita putus saja. Kita putus!
" Elu, gue, and," kataku sambil merehatkan kedua jempol tanganku, kemudian tangan kanan saya mencontohi adegan mengiris batang leher, sedangkan tangan kiri mengelap keringat yang mengucur.
Untuk itu, sebelum ini menjadi lebay dan sangat lucu, saya mau mengutip kata Alm. Gusdur yang akhir-akhir ini ramai dibagikan di Facebook: "Setiap yang berbau Komunis disebut PKI. Setiap yang berbau kritis dituduh liberal. Setiap yang berbau Iran dituduh syiah. Beragama kok dengan hidung :D "
Begitu Pak Jokowi. Lucu kan? Kan? Kan? Kan luuuuucu!!
Tulis status dulu ah, "Sedang berada di Sekretariat HMI Cabang Manado, Jalan Betesda No. 10 A ..."
(Muzakir Rahalus)
Penikmat Kopi Indonesia, dan Penyair Kecil Indonesia yang senang mengkritik diri sendiri, tapi orang yang baca sering 'gagal paham'.


Post A Comment:
0 comments: