KONSPIRASI BELANDA DAN RUNTUHNYA KEKUASAAN WILAYAH KERAJAAN BOLAANG MONGONDOW Boelang En Mogondo, BOGANI Totabuan,
Sumber (Penerjemah) : Sumitro Tegela
Editor : Lily Arianingsih
Foto Documenter Kediaman Raja Bolaang Mongondow (Boelang en Mongondow)
 Fajartotabuan.com - (Boelang En Mogondo) Kerajaan Bolaang Mongondow  adalah kerajaan di Nusantara yang sudah lama berdiri jauh sebelum datangnya para penjajah baik dari portugis,spanyol ataupun belanda kerajaan Bolaang mongondow pemerintahanya berkiblat ke kesultanan ternate di maluku karena maluku merupakan wilayah islam, daerah ini sudah di datangi pedagang arab dua setengah abad lebih dahulu dari misionaris katolik. Nama Maluku berasal dari bahasa arab "Al-Mulk"yang memiliki arti Tanah Para Raja.Kesultanan Ternate mengadopsi sistem pemerintahan Monarki kesultanan, Kesultanan Ternate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Pada masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauanFilipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.


 
 Peta Wilayah Kesultanan Ternate
 Kerajaan kerajaan di Bolaang Mongondow, Kaidipang, Bolaang Itang, Bintauna,dan Bolaang Uki juga memilik kesamaan dalam bentuk sistem pemerintahan Monarki. Hubungan Baik antar kerajaan terjadi pada masa kesultanan Baabulah menurut sejarah Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga Kepulauan Marshall di bagian timur, dari Filipina Selatan di bagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara di bagian selatan.

    Sultan Baabullah dijuluki penguasa 72 pulau yang semuanya berpenghuni hingga menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, di samping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu. Periode keemasaan tiga kesultanan ini selama abad 14 dan 15 entah sengaja atau tidak dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat.(Wikipedia).

Pasukan Kora - Kora (Boelang en Mogondo)
Hubungan dagang antara kerajaan Bolaang en Mogondo dan Kesultanan ternate sudah berlangsung lama. Pedagang Spanyol Tome Pieres dan Andres De Urganeta  mencatat bahwa " Celebes " yang berarti Bolaang,Gorontalo atau kepulauan Sangir, karena ia berhubungan secara terpisah dengan bagian lain dari Sulawesi dan dengan Mindanao mengirim emas untuk Maluku setiap tahun dan juga pemasok informasi Portugis. Menurut data resmi jaman kejayaan kerajaan Bolaang en Mogondo ada pada pemerintahan Raja Tadohe karena Bersama para Bogani dan rakyatnya, raja Tadohe membuat peraturan-peraturan mengenai kehidupan masyarakat.Hubungan kesultanan ternate dan kerajaan bolaang sangat baik bahkan kesultanan tidore mengirim dan memperkuat armada militer laut yang tangguh di sebut kora-kora untuk menghalau dan menjaga sulawesi utara dari gangguan perompak  mindanao. (David Henley).

Masa Perdagangan Eropa di Sulawesi Utara

Rute Pelayaran dan Perdagangan Eropa menjadikan Sulawesi Utara berkembang sangat cepat dan strategis karena Posisi rute pelayaran yang mengangkang dua rute awal yang penting menuju pulau rempah-rempah yang tepat dari cina dan luzon melalui Mindanao dan dari Malaka melalui Brunei dan kalimantan utara di kunjungi oleh kapal kapal asing. Menurut sumber dari cina abad ke 14 Kerajaan Bolaang memiliki perdagangan langsung dengan malaka.Ketika Pegawai para pegawai belanda pertama mengunjungi Kerajaan Bolaang Mongondow (Boelang en Mogondow) yang masih berdaulat pada tahun 1860an,mereka kagum melihat sistem jalan berkuda dan jembatan yang di bangun dan di rawat menurut aturan kerajaan (de clercq 1883:121)

Peta Wilayah Perdagangan VOC
Perdagangan dan pelayaran pada masa itu sangat pesat bahkan Kerajaan Kaidipang menulis surat kepada Gubernur Spanyol di maluku pada tahun 1616 "raja Kaidipang meminta senapan, amunisi, bendera, dan beberapa kain India dengan imbalan loyalitas". Memanasnya situasi politik dan perdagangan di maluku antara portugis spanyol dan belanda,pada tahun 1563 memaksa sultan Hairun melakukan ekspedisi militer yang dapat diartikan sebagai reaksi defensif Portugis gangguan dalam jaringan perdagangan sebelumnya berfokus pada ternate nyatanya di dominasi sulawesi utara.di mulainya pembangunan benteng Garnisun Belanda dan Spanyol di Maluku utara pada awal abad ke 17 mempunyai masalah pasokan makanan sehingga VOC menyeberang maluku menuju Manado sebagai solusi potensial. Kapal VOC pertama kali memuat beras di manado pada tahun 1608. Mulai saat itu impor perdagangan sulawesi utara minyak kelapa, kayu hitam, damar, lilin menuju pos-pos eropa di maluku. Meskipun pembelian tanpa keterlibatan ternate, VOC membeli langsung kepada produsen dan kolektor di sulawesi. Akhirnya spanyol dan belanda  dengan sepenuh hati mengelola kekayaan sulawesi utara di Asia Tenggara.

Posisi Strategis Pelabuhan Manado dalam Pengembangan jalur Pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara memaksa VOC harus menguasai sulawesi utara pada saat itu masa pemerintahan Raja loloda mokoagow.  Raja Loloda Mokoagow biasa juga disebut dengan nama Datu Binangkang. Kata Binangkang berasal dari kata Mongondow binangkangan yang artinya diperdayai atau ditipu. Binangkangan itu terjadi saat VOC dari belanda telah memasuki Manado. Karena Manado dipandang strategis bagi usaha perdagangan VOC maka mereka segera mendirikan benteng dari kayu. Tetapi pada 30 Desember 1656 VOC memutuskan untuk mengganti benteng kayu dengan beton. Agar pekerjaan dilaksanakan sehemat mungkin maka tenaga diusahakan dari Manado Melalui raja Loloda Mokoagow, sedangkan bahan lain seperti besi dan kapur disiapkan oleh kompeni Belanda. Orang-orang Minahasa yang datang dari pedalaman dibawah para pemimpin masyarakat (disebut Ukung) juga diminta Raja Loloda Mokoagow untuk mengerjakan benteng ini. Tonsawang, Pasaan,Ratahan, Povosakon dan somoit (Bantik) sebagai Panglima Tentara Kerajaan Bolaang Mongondow pada 1697.Valentijn F.(1666-1727) Oud En Nieuw Oost-Indien.
Kompeni bersama Pemimpin Jan Bapista
  Pemimpin Kompeni yang baru yaitu Jan Baptista dalam melanjutkan pekerjaan benteng ini secara diam-diam mulai menyingkirkan peran Raja Loloda Mokoagow dengan cara melakukan pengaturan rahasia dengan para Ukung. Akibatnya Loloda Mokoagow menarik komitmennya untuk membantu pembangunan Benteng. Ia juga mengancam para Ukung dari Minahasa untuk tidak bekerja pada pembangunan ini. Raja Loloda Mokoagow merasa tersinggung karena dihina oleh kompeni meninggalkan Manado dan pindah menetap di Amurang.  Dalam buku David Henley Pada 1655 ada sebuah benteng kayu, "Belanda Keteguhan," didirikan. Ini digantikan pada tahun 1673 oleh Stone Fort Amsterdam dan kemudian, pada tahun 1703, dikelilingi oleh dinding batas batu. Pemukiman VOC ini memiliki garnisun kecil. Pada tahun 1678 Gubernur Robert Padt Bruges menandatangani kontrak dengan kepala daerah sehingga seluruh Sulawesi Utara berada di bawah otoritas Belanda East India Company. ( Robidé van der, ed. 1867. Het journaal van Padtbrugge’s reis naar Noord- Celebes en de Noordereilanden (16 Aug.–23 Dec. 1677).   
  To be Continued . . . 

Post A Comment:

0 comments: