![]() |
| Ilustrasi |
FajarTotabuan.com - Kerusakan hutan akhir-akhir ini di Bolaang Mongondow (Bolmong), punya beberapa sebab. Selain kerusakan dari alam, ada juga yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia yang menebang pohon tanpa berpikir efek dan dampaknya bagi lingkungan, yang tentunya akan berimbas kepada masyarakat, seperti banjir, tanah longsor, dan bahaya-bahay lainnya.
Terkait dengan kasus kerusakan hutan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmong pun tak mau diam. Kini, hal itu menjadi perhatian serius bagi Pemkab untuk melakukan penanggulangannya, sebelum menjadi lebih parah lagi.
Untuk memanimalisir luas hutan yang rusak, Pemkab Bolmong menyiapkan program reboisasi. Hal ini senada dengan apa yang pernah dikatakan Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bolmong, Imran Nantudju, bahwa pihaknya akan 'menutup lubang' penyebab longsor.
"Itu akan dilakukan. Sebab saat ini ratusan hektar kawasan hutan di Bolmong telah rusak, sehingga perlu adanya penanganan serius. Dari catatan kami, ada beberpa titik yang sering terjadi longsor. Itu karena struktur tanahya tidak kuat lagi karena tumbuhan kayu-kayu penyangga sudah tidak ada lagi," jelasnya.
Di lain kesempatan, pihaknya pun akan terus-terusan berupaya mengsosialisasikan kepada warga, terkait pemahaman tentang hutan, dan dampaknya jika hutan dirusaki dan ditebang pohon-pohonnya. Agar nantinya, masyarakat tidak melakukan perambahan hutan termasuk mengambil kayu bakar, apalagi memanfaatkan kawasan hutan lindung sebagai tempat bercocok tanam.
"Program reboisasi sangatlah penting dilakukan saat ini. Kami meminta warga untuk melibatkan diri dalam menjaga dan memelihara hutan," ujarnya.
Katanya, dampak kerusakan hutan sangat berbahaya. Jika kerusakan hutan di daerah hulu terus terjadi, maka air hujan yang turun langsung masuk ke aliran sungai dan menimbulkan erosi. Akibatnya, terjadinya pendangkalan di beberapa titik sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).
"Itu bahaya buat daerah di hilir," Nantudju memungkas. (Zack)


Post A Comment:
0 comments: